Rabu, 20 November 2013

ISLAM DAN KETENANGAN JIWA



ISLAM DAN KETENANGAN JIWA

Muqqimah ……………
Dunia yang kita tempati sekarang ini adalah merupakan arena dan gelanggang tempat bekerja dan berjuang guna mewujudkan kehidupan yang lebih baik dan meraih ketenangan lahir bathin. Untuk mewujudkan keadaan tersebut, kita senantiasa dihadapkan kepada suatu alternatif perjuangan antara menang dan kalah, antara berhasil dan gagal.
            Seandainya kita menang dan berhasil dalam perjuangan hidup, maka cepat atau lambat apa-apa yang kita berjuangkan itu akan terwujud, namun apabila kita kalah dan gagal dalam memperjuangkan suatu keinginan, maka segala yang kita harapkan hanya akan berupa angan-angan belaka dan hal tersebut kadang kala menimbulkan suatu masaalah dalam diri kita, bahkan tidak mustahil mangakibatkan suatu konflik jiwa sehingga menimbulkan sakit mental. Tibulnya penyakit mental kadang kala diakibatkan oleh barbagai kenyataan yang tidak diinginkan menimpa seseorang, di mana orang yang ditimpa musibah tersebut tidak kuat dan tidak cukup tabah menghadapinya.
            Acap kali Allah menguji hambaNya dengan suatu musibah, yang semata-mata bertujuan untuk mengetahui sampai sejauh mana ketabahan dirinya menghadapi cobaan tersebut, sehingga akan terlihat suatu perbedaan sikap seseorang dalam menerima musibah yang menimpanya.
Dalam surah Al-Ambiya’ ayat 35 Allah berpirman:

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagi cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada kmilah kamu dikembalikan”.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatlkan oleh Imam Thabrani dikatakan:
“Sesungguhnya Allah akan mencoba salah seorang di antara kamu, dengan suatu malapetaka, sebagaimana salah seorang diantara kamu mencoba emasnya dengan apai, mereka yang menerima cobaan itu, ada yang keluar seperti emas dan ada diantaranya yang keluar seperti emas hitam atau imitasi”
Para dokter ahli jiwa telah banyak mengadakan berbagai penyelidikan tentang sampai sejauh mana peranan agama dalam mengatasi masalah kejiwaan atau penyakit mental.
Dari berbagai penyelidikan yang mereka lakukan sampai pada suatu kesimpulan bahwa agama mempunyai fungsi dan peranan yang sangat penting dan menentukan dalam membina kesehatan jiwa atau mental. Diantaranya:
Dr. Carl Jung mengatakan: saya telah merawat beratus-ratus pasien diatas usia 35 tahun, yang  menjadi pokok masalah yang dihadapinya adalah tidak dimilikinya pandangan hidup yang berdasarkan keagamaan yang dapat memberi kepuasan bagi pemgikutnya. Dan tidak seorangpun diantara mereka yang bias sembuh secara sempurna, sebelum mereka berhasil menemukan pandangan hidup yang berdasarkan agama.
            Demikian pula seorang psychiater Dr.A.A.Briil dengan tegas mengatakan: Manusia yang betul betul mengamalkan ajaran agama, pasti tidak dihingga pipenyakit saraf, yaitu suatru penyakit yang disebabkan oleh perasaan gelisah terus menerus. Dengan do’a dan keimanan kepada Tuhan, niscaya lenyaplah kehawatiran dan kegelisahan tersebut.
            Padasuatu hari telah datang seseorang kepada sahabat Nabi yang bernama Ibnu Mas’ud meminta nasihat sehubungan dengan kegelisahan dan keresahan hatinya yang tak kunjung padam, sehingga dia tidak dapat berkonsentrasi baik untuk beribadah maupun bermuamalah. Maka Ibnu Mas’ud menasihatinya: seandainya penyakit itu menimpa dirimua, maka jalan yang paling baik yang harus ditempuh adalah dengan membawa hatimu untuk mengunjungi tiga tempat:
  1. datanglah kamu ketempat orang-orang membaca Al-Qur’an, kemudian engkau membacanya atau engkau dengar dengan baik orang yang membacanya.
  2. atau engkau datangi majlelis ta’lim (tempat pengajian) yang mengingatkan hatimu kepada Allah.
  3. atau mencari waktu dan tempat yang sunyi, disana engkau berklhaluat menyembah kepada Allah, seperti ditengah malam, disaat orang sedang nyenyak tidur, engkau bangun mengerjakan sholat malam, mohon kepada Allah ketenangan jiwa, ketenteraman pikiran dan kemurnian hati.
Kemudian, seandainya jiwamu masih belum terobati dengan ketiga cara tersebut, maka sebaiknya engkau memohon kepada Allah, agar diberi hati yang lain, karena hati yang ada padamu  sekarang, sudah bukan hatimu lagi.
Setelah itu, orang tersebut kebali kerumahnya, lalu diamalkan segala nasihat Ibnu Mas’ud tersebut. Ia pergi mengambil wudhu’ mekudian mengabilAl-Qur’an, terus dia baca dengan hati yang tulus dan ikhlas. Manakala selesai membaca Al-Qur’an berubahlah hatinya, dirinyapun tenang dan kegelisahanny menjadi sirna.
Apabila kita benar-benar mempelajarai, menghayati dan mengamalkan ajaran islam dengan benar, maka akan kita temukan bebagai manfaat dan hikmah yang sangat mendasar dalam upaya meraih keberhasilan, mencapai ketenangan dan menanggulangi bebagai penyakit jiwa atau mental. Disamping ajaran tentang sabar dan tawakkal kepada Allah, membaca Al-Qur’an dan lain-lain. Maka ajaran tentang sholat pun tidak sedikit manfaat dan pengaruhnya dalam upaya menanggulangi penyakit mental dan problema hiduplainnya.

“jadikanlah sholat dan sabar sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sangatlah berat, kecuali bagi orang-orang yang khusu” ( Al-Baqarah: 45)
Dalam suray AlMa’arij 19-22 Alllah berpirman:

sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, apabila ditimpa kesusahan ia barlaku keleuh kesah dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan sholat”.
            Berdasarkan beberapa pendapat dan kenyataan tadi, maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa: agama islam tidahk hanya berfungsi sebagai alat penghubung manusia dengan Allah (hablumminallah) dan pengatur tata cara kehidupan sesama umat manusia serta hubungannya dengan alam semesta (hablumminannas) melainkan juga berperan sebagai stabilisator kesehatan, motivator perjuangan, demi ketenangan dan ketenteraman hati dalam upaya mewujudkan kehidupan hasanah di dunia dan hasanah di akhirat.
Untuk itu sayogyanyalah kita mulai menata diri sampai sejauh mana ibadah kepada Allah kita lakukan, dan sampai sejauh mana pula  printah Allah itu kita realisasikan utnuk diri sendiri, keluarga, masyarakat serta bangsa dan Negara, sehingga timbul perasaan optimis pada  diri kita, tidak mudah mengalah mengatasi keadaan, tidak mudah berhenti dalam berjuang menghadapi berbagai tantangan hidup dan kehidupan, dengan penuh keyakinan akan bimbinmgan dan pertolongan Allah swt.

baaraka